<body>


Saturday, October 31, 2009

Oleh : iprayudi

Diam, sendiri, duduk tertegun
Memandang layar yang saling menatap
Dengan hati yang selalu bertanya

Apa yang kutanyakan ?
Apa yang kuinginkan ?
Apa yang seharusnya kulakukan ?
Untuk apa ?
Untuk siapa ?

Apa yang kau tanyakan di dalam hati ?

Tak bisa kuungkap dan
Aku hanya bisa menggoreskan kisah itu
Ke dalam kertas putih yang bersih

Cinta itu telah pergi
Pergi meninggalkan aku sendiri
Ku terduduk, termenung, menyendiri lagi
Memikirkan kemana cinta itu pergi
Apakah ia pergi sendirian atau dengan yang lain
Aku terus termenung penuh pertanyaan
Yang kusembunyikan di dalam hatiku yang hampa

Hati yang hampa mulai berkhayal
Bilamana cinta itu kembali lagi untuk bersandar di pundakku
Apakah aku akan gembira atau aku akan bersedih
Tapi itu semua hanya ilusi, hanya pandangan ceroboh, dan tak mungkin ada

Biarlah cinta itu pergi,
walaupun di suatu masa nanti akan kembali lagi
tuk berdiri mendampingiku hingga suatu saat nanti

tetapi tak ayal diriku saat ini
hanya bisa diam, sendiri, dan duduk tertegun
memandang bersihnya sebuah layar yang ada di hadapanku
dan mencoba mencari cintaku yang pernah hilang

what we could have been, 5:16:00 AM.


Oleh : iprayudi

Mendengar merdu suaranya
Yang berkicau
Di pagi hari
membuat hati ini
Dingin dan Sejuk

Burung pun berkicau
Menyambut bangunnya sang mentari
Yang datang tersenyum menyambut pagi

Burung pun bernyanyi
Dengan lantunan yang sangat merdu
Membuat hati ini tersenyum

Burung pun berkicau
Menandakan pagi telah datang
Menandakan sebentar lagi sang fajar datang

Burung pun bernyanyi
Memberi ketenangan batin di pagi hari
Menemani orang-orang yang keluar rumah
Menemani siapa saja yang keluar di pagi hari

Burung pun berdendang
Seraya mempertunjukan keahliannya di depan alam
Walaupun tak ada seorang pun yang bertepuk tangan
Tetapi dia terus berkicau, bernyanyi, dan berdendang
Menyambut pagi


what we could have been, 5:14:00 AM.


Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan besar Festival Kesenian Indonesia (FKI) - 6 yang diadakan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia dengan peserta 7 (tujuh) Perguruan Tinggi Seni di Indonesia. Pada FKI ke 6 IKJ menjadi panitia sekaligus tuan rumah. Sebelumnya dari tanggal 5-8 Oktober 2009, seluruh kegiatan FKI yang dibuka untuk umum mendapat animo yang besar dari masyarakat.
Pameran ini secara khusus diadakan menjadi sebuah program perdana dan utama, karena pada saat FKI sebelumnya pameran yang terkurasi belum pernah diadakan, dengan materi pameran seni lukis, seni patung, seni grafis, keramik, transmedia, fotografi dan drawing. Tentu saja diadakan dengan skala relasi yang menjaring hampir seluruh perguruan tinggi seni rupa di Indonesia.

Visi pameran yang diikuti oleh 31 peserta dari 5 perguruan tinggi seni adalah ingin mengutarakan citra bahwa perguruan tinggi adalah pintu masuk berkembangnya sikap-sikap intelektual serta menjadi penerang masyarakat dan memiliki tanggung jawab kepada dunia secara umum untuk menciptakan 'tahta tanda' atau pencapaian puncak hasil cipta budaya terbaik bagi masyarakat. Sekaligus juga menjadi penengah wacana berbagai kontra ekstetika yang telah terjadi maupun yang akan menjadi bagian dari ilmu pengetahuan dan ilmu keindahan. (Kurator : Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., Ph.D. ; Drs. Suwarno Wisetotromo, M. Hum ; Asikin Hasan ; M. Firman Ichsan ; Mikke Susanto)

Event akbar ini telah berlangsung pada 17-24 Oktober 2009 di Galeri Cipta II, Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki & Galeri Seni Rupa IKJ.

Berikut ini adalah beberapa list dari peserta dan karyanya :
1. Adrianus Milala (Jakarta) --- Ketelanjangan (45 x 50 cm of Digital Print)
2. Paul Kadarisman (Jakarta) --- Untitled 01 (90 x 60 cm)
3. Dolorosa Sinaga (Jakarta) --- Quiet Zone (122 x 83 x 95 cm of Fiberglass)
4. Aries BM (Solo) --- She Goes (to) Real Lie (65 x 125 x 34 cm of Keramik)
5. Ichwan Noor (Yogyakarta) --- Gadis (95 x 70 x 44 cm of Alumunium, Stainless still dan Cor Logam)
6. Agung Tato Suryanto (Surabaya) --- Malin Kundang (200 x 63 x 105 cm of Besi dan Las)
7. dan lain sebagainya

what we could have been, 3:24:00 AM.
Friday, October 30, 2009


Banyak orang yang mengira bahwa praktik seni lukis adalah murni urusan cipta mencipta. Sebuah lukisan dianggap lahir dari tabula rasa manusia. Dalam anggapan itu, seorang pelukis bagaikan nabi yang menerima wahyu dari langit. Ketika penulis adalah nabi, maka apa yang ia lukis dianggap sama dengan kebenaran. Ketika lukisan adalah kebenaran, maka seniman adalah sosok jenius yang tak terbantahkan. Mitos tentang karya seni dan seniman ini, saya kira, perlu terus kita perdebatkan hari-hari ini.
Sejak seni rupa barat mulai punya obsesi besar terhadap kepersisan, para seniman Renaissance Eropa seperti Jan van Eyck dan Caravaggio sebetulnya telah menggunakan perangkat bantu optik dalam melukis-ini adalah tesis pelukis Amerika, David Hockney, dalam bukunya The Secret Knowledge, Resdicovering the Lost Techniques of the Old Master (2001). Dari Hockney, kita tahu bahwa meskipun para maestro itu belum menggunakan peralatan secanggih projektor seperti sekarang, proses penciptaan (produksi) lukisan sebetulnya tidak pernah lepas dari proses salin menyalin dan ngeblat-mengeblat. Pada titik itu kita bisa mempertanyakan mitos tentang keaslian dan kejeniusan seniman yang selama ini dipatenkan oleh sejarah seni rupa Barat.
Itulah sedikit Catatan Kuratorial, Agung Hujatnikajennong dalam sebuah solo exhibition paintings | graphic karya Henry Foundation di RURU Gallery Ruang Rupa Tebet Timur Dalam Raya yang berlangsung hingga akhir Oktober 2009. Pameran yang mengambil tema copy paste ini memiliki judul Copy-Paste Extraordinaire
Di pameran ini menampilkan berbagai macam design seni lukis yang tergores di media t-shirt yang memiliki warna, corak, dan isi pesan yang sangat bagus.

what we could have been, 1:46:00 AM.

"Bemo" hidup segan, mati tak mau.
Itulah ungkapan yang cocok diberikan kepada sebuah angkutan umum di Jakarta yang kondisinya sudah sakratul maut, karena menurut salah satu Undang-undang yang dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta, bemo sebentar lagi akan di hapus dan di ceburkan ke laut untuk dijadikan rumpon atau rumah ikan. Miris memang mendengarnya. Bagi pengguna setianya yang setiap hari menggunakan jasa kendaraan asal Jepang ini yang juga disebut-sebut sebagai angkutan blasteran bajaj dengan omprengan, pasti akan menitikkan air mata karena harus dipisahkan dengan teman setianya tersebut.
Populasi Bemo di Indonesia memang tidak sebanyak bajaj, di negara yang membesarkan nama bemo itu hanya terdapat di kota metropolitan Jakarta yang semrawut dan dengan hiruk pikuk orang berlalu lalang di jalan-jalan ibukota.
Di Jakarta pun setahu saya hanya tinggal dua trayek yang dilayani oleh bemo, yaitu dari Pasar Tanah Abang - Benhil melalui Pejompongan dan Penjernihan dan satu lagi trayek Manggarai - Salemba melalui Tambak, Proklamasi dan berakhir di depan RS St Carolus. Tapi untuk trayek yang kedua ini saya sudah jarang melihatnya, berbeda dengan trayek yang pertama, hampir di pinggir jalan raya Bendungan Hilir masih banyak bisa kita jumpai bemo-bemo yang diparkir untuk menunggu penumpang. Apakah program pemkot Jakarta ini sudah berjalan ? Wah, saya tidak bisa menjawabnya ......
Angkutan umum yang unik ini pertama kali datang ke Jakarta sekitar awal tahun 70 an bertepatan dengan populernya angkutan umum bernama "Oplet", ya angkutan umum legendaris Jakarta yang saat ini telah punah tergerus zaman.Anda tau Oplet ? sebuah angkutan umum yang terlihat lagi berseliweran di Fim Si Doel Anak Sekolahan. Sedikit tentang Oplet. Bemo tunggu sebentar ya, aku mau menjelaskan sedikit tentang saudara tuamu kepada pembaca yang budiman. Ayo kita lanjut lagi, jadi Oplet itu adalah angkutan umum bermesin Morris, yang merupakan mobil yang sangat banyak di pasaran. Ciri khas nya adalah bangku belakangnya hadap-hadapan hampir sama dengan bemo, tetapi yang membedakan terletak pada ruang penumpangnya, kalau oplet bisa mengangkut sebelas orang dibelakang dengan agak longgar, sedangkan bemo maksimal hanya tiga orang, itupun dengkul harus berantem dengan penumpang lain.
Kita kembali lagi ke Bemo "si mbah", pernah saya menonton salah satu tayangan yang penuh inspirasi di sebuah stasiun televisi swasta lokal, bahwa dijelaskan hingga saat ini bemo hidup segan mati tak mau, pasalnya adalah dalam segi perawatan dan pengadaan suku cadang. Di Jakarta yang menjual suku cadang bemo sudah tidak ada, ya mau tidak mau montir bemo mengkanibal kendaraan lain untuk menghidupi si tua renta ini, apakah kanibal dari motor, bajaj bahkan mobil dan bus metro mini.
Sebentar lagi, mungkin tahun depan kita sudah tak akan melihat si tua renta "bemo" berseliweran lagi di jalanan ibu kota yang lebih tepatnya di ruas Manggarai-Salemba dan Tanah Abang-Benhil.

Sisa-sisa dari kendaran ini akan disingkirkan dan diganti dengan angkutan yang lebih baru dan memiliki daya angkut yang banyak. Di tahun depan dan seterusnya, kalau kita mau melihat bemo jawabannya hanya satu yaitu di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Selamat Jalan Bemo "Si Tua Renta", kami warga Jakarta mengucapkan banyak terima kasih atas jasamu melayani kami dari Kakek hingga cucu, kami tidak akan melupakan jasamu, walaupun nanti kau akan disingkirkan dari ibukota ini, kami akan selalu menyimpanmu di dalam album kenangan yang nantinya akan dikenalkan kepada penerus kami.

what we could have been, 12:34:00 AM.

Profile

NAME
age school whatever.
Tagboard
place tagboard code here. max width=130.
get one from cbox!
Wishlist
new camera
▪ the 18th birthday
Exits
Eefennie
name name name
Archives
9/20/09 - 9/27/09 10/11/09 - 10/18/09 10/18/09 - 10/25/09 10/25/09 - 11/1/09 11/1/09 - 11/8/09
Credits
designed by lil.queens
photos: bexidaisy on DA
host: imageshack & imeem
inspiration & lyrics: TLG
title script source unknown.