<body>


Tuesday, October 20, 2009



Mata Do Guru Roha Sisean

Semua ekspresi wajah saja tidak cukup untuk mensiasati para manusia yang berlalu lalang melihat ikon-ikon yang tidak bergerak. Kesan yang paling menonjol adalah bahwa kesemuanya adalah pilihan yang tepat bagi mereka yang memilih. Kalau pada keseharian kita selalu menemukan bentuk dan ekspresi wajah yang beraneka ragam dari kalangan pembuat iklan yang memasarkan produk produk mereka ke pasaran yang tidak kurang menyertakan wajah wajah yang dipilih dari kalangan artis yang biasa memajang wajahnya di layar kaca maupun elektronik serta penyanyi yang rupawan dan diatas kertas kertas majalah dan koran koran. Pada penggambaran wajh yang telah direkayasa ini sajapun tidak cukup dengan telanjang muka Disana perlu ditambahkan aksesori pendukung. Seperti senyum yang menenteramkan dan bersahabat, rambut yang ditutup.

Setiap manusia akan melihat manusia didepannya dengan pandangan langsung menatap wajahnya. Seseorang yang tidak dikenal ketika memperkenalkan diri di depan orang untuk menyatukan sesuatu, serta merta pandangan kita melihat disekitar wajahnya dan tidak lepas memandang matanya untuk mengetahui apakah lidah pada perkataannya bisa dipercaya atau tidak. Sebuah pertanyaan simpati atau sebaliknya akan bisa terlihat langsung diwajah yang hadir didepan kita di saat itu juga.

m u k h a
by : Sonny eska

Pameran seni rupa kembali digelar tepatnya pada bulan Juli lalu di Hall C Galeri Nasional Jakarta. Event kali ini merupakan pameran tunggal karya seniman Sonny Eska yang menampilkan beberapa karyanya dengan tema mukha. Dengan dipandu oleh seorang kurator ternama Merwan Yusuf dalam Mata Do Guru Roha Sisean, yang cuplikannya telah saya uraikan diatas membuat event kali ini menampilkan ciri khas berbeda dari event-event sebelumnya. Acara ini merupakan hasil kerjasama antara Dunia Art Gallery dengan Galeri Nasional. Event yang berlangsung pada 10 - 22 Juli 2009, telah mengambil decak kagum para pengunjungnya, karena disini ditampilkan seni lukis tentang ekspresi wajah dari masing-masing sifat manusia dan karakternya.

"Dapatkah kita menjadi sesuatu yang terlepas dari ilusi? Tidak terdefinisikan oleh bentuk, tidak dibatasi oleh sifat, sesuatu yang tidak khusus dan karenanya tidak menipu suatu kehidupan yang khusus" "Bukankah kepribadian sesungguhnya adalah juga topeng dari manifestasi sifat yang sebenarnya? Sebuah tirai?"

Oleh : Ilham Prayudi

what we could have been, 2:14:00 AM.
Monday, October 19, 2009



Acara yang telah berlangsung pada Rabu, 14 Oktober 2009 pkl. 14:00 - 21:00 WIB di Auditorium Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda di Jakarta cukup menyedot banyak pengunjung yang terutama berasal dari latar belakang dunia kesusasteraan, jurnalis media, dan kesenian. Pada waktu itu yang tercatat sebagai mahasiswa hanya saya seorang diri.

Pembukaan acara "Menimbang Sitor Situmorang dan memperingati HUT-nya yang ke 85 tahun" secara khusus dibuka langsung oleh Direktur Erasmus Huis Jakarta, Mr. Paul Peters pkl. 16:00 WIB atau setelah tayangan Film Premiere "Van indie tot indonesie" (Hidup dan karya Sitor Situmorang --- sutradara John Albert Jansen) dengan durasi 50 menit lalu setelah itu dilanjutkan dengan "Tongkat Diatas Batu" (sutradara Afrizal Malna).

Setelah pembukaan yang dilakukan oleh Mr. Paul Peters, acara dilanjutkan dengan Peluncuran Buku Toba Na Sae (Sejarah Lembaga Sosial dan Politik Abad XIII-XX) karya Situmorang. Dilanjutkan dengan acara forum diskusi panel dengan pembicara Dr. Johann Angerier (Leiden University --- Sitor dan Kajian Batak), Prof. Dr. Bungaran A. Simanjuntak (Universitas Negeri Medan --- Sitor Situmorang mewariskan kerja budaya Batak yang comprehensive dan complicated) dengan moderator Ibu Maria Sarumpaet (Teater Satu Merah Panggung).

Dengan moderator yang satu ini kita jadi teringat tentang perlawanannya membela hak asasi manusia di bumi Indonesia ini, saya ceritakan sedikit siapa sebenarnya sosok Maria Sarumpaet tersebut lahir 16 Juli 1949 di Tarutung Sumatera Utara, beliau adalah anak ke lima dari sembilan bersaudara - 7 perempuan dan 2 laki-laki. Sempat kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur dan Fakultas Hukum UKI, Ratna memilih kesenian sebagai alat perjuangannya. Keberpihakannya pada orang-orang kecil dan marginal menjadi tema setiap karya yang dilahirkannya yang mengupas secara terbuka masalah-masalah kemanusiaan, kebenaran dan keadilan serta mempertanyakannya secara frontal kehadapan penguasa. Hingga saat ini beliau sudah melahirkan karya-karya besar berupa naskah drama yang terkenal di seantero jagat seperti Drama Muning (1993), Marsinah, Nyanyian dari bawah tanah (1994), Terpasung (1995), Pesta Terakhir (1996), Marsinah Menggugat (1997), ALIA, Luka serambi Mekah (2000), Anak-anak Kegelapan (2003) dan Jamila & Sang Presiden (2006). Semua naskah itu diproduksi dan dipentaskan kelompok drama Satu Merah Panggung, yang didirikannya pada 1974.
Untuk mengetahui seluk beluk dan siapa sebenarnya sesosok Maria Sarumpaet maka saya akan membahasnya lebih lanjut di postingan berikutnya.

Oke ... kita kembali lagi ke permasalahan semula yaitu saya akan membahas isi dari diskusi panel pertama yang dilaksanakan untuk memeriahkan acara Menimbang Sitor Situmorang di Erasmus Huis kali ini. Mr. Dr. Johann Angerier diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan pemikirannya mengenai Sitor Situmorang yang mengangkat tema Sitor dan Kajian Batak. Disini beliau membacakan satu teks yang merupakan hasil dia meneliti untuk program doktornya. Saya sampai berpikir, ternyata orang luar itu sangat menyukai dan mencintai budaya Indonesia. Sedangkan masyarakat kita sendiri seolah-olah sudah melupakan budaya yang sangat kaya ini, hingga akhirnya seni dan budaya kita di klaim oleh bangsa lain kita baru bertindak. Bagi saya itu terlambat. Itu hanya pemikiran saya saja. Jadi beliau (Mr. Johann) meneliti apa saja tentang Batak, mulai dari suku, pembagian wilayah hingga cara perkawinan serta hubungan kekeluargaan hingga klain/garis keturunan orang batak. Dan yang paling menarik adalah ketika beliau memberikan cara orang batak membuat desa/kampung (huta) jadi ada tiga opsi yang bisa dilakukan. Tetapi saya hanya mengingat satu opsi yaitu siapa saja boleh membuat kampung dan asal inisiatif sendiri dan ada dukungan dari keluarga atau kerabat. Dengan logat campurannya, Mr. Johann agak tersendat ketika membaca beberapa teks Indonesia tetapi dengan kegigihannya beliau bisa melewati semua itu, terkadang kita sebagai pendengarnya sangat lucu mendengar Orang Bule berbahasa Indonesia, agak nyangkut di lidah.

Setelah Mr. Johann maka Prof Dr. Bungaran A Simanjuntak yang merupakan salah satu Guru Besar di Universitas Negeri Medan bidang Antropologi dan Budaya memberikan Apresiasi yang sangat besar kepada Sitor Situmorang yang telah menerbitkan Buku Toba Na Sae ... beliau berkali-kali mengatakan .... "LUAR BIASA".... !!! Kali ini pembicara kita yang kedua membahas Sitor Situmorang Mewariskan Kerja-Budaya Batak yang Comprehensive dan Complicated.

Yang menjadi basis penelitian sehubungan dengan karya Sitor tersebut, saya (Prof Bungaran) berpendirian bahwa karya itu bukan monumental untuk Sitor dan keturunannya, namun merupakan karya berbasis penelitian untuk masa kini maupun masa depan. Coba anda lihat di buku-buku terbitan sitor seperti Toba Na Sae, Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX. Pada bagian tugas berat yang diwariskan sitor, saya membeberkan persoalan apa yang ditawarkan dan diteliti lebih lanjut. Sitor mengharapkan penuntasan studi Lembaga Sisingamangarja, juga terutama tentang diri Raja Sisingamangaraja, serta masalah mitos dll, sangat butuh pemahaman akademis yang mendalam melalui penelitian. Dan masih banyak lagi yang sangat penting. Oleh karena itu saya berkesimpulan bahwa masalah-masalah yang ditampilkan oleh sitor merupakan basis peneilitian yang ratusan tahun tak akan kering bila dilakukan dari berbagai sisi fenomena sosial dan budaya. Karenanya orang batak dan Budaya Batak sangat layak untuk diteliti secara berkelanjutan dan mendalam. Seperti yang dilakukan para cendekiawan terhadap budaya Jawa yang sepertinya tidak akan habis.

Diskusi Panel Pertama tersebut diakhiri dengan berbagai tanya jawab yang sangat kritis dan serius oleh para tamu undangan.

Untuk merilekskan pikiran dan memperhangat suasana, maka pihak panitia menampilkan sebuah kesenian dan budaya khas batak yang dibungkus rapi dalam sebuah pementasan drama berjudul "Pulo Batu" karya sitor situmorang oleh Thompson HS (Direktur Pusat Latihan Opera Batak) dan diiringi oleh maestro opera Batak yaitu Zulkaidah Harahap dan Allstar Nainggolan yang mengiringi drama tersebut dan dengan iringan musik batak oleh Tarzan Simamora.

Setelah acara ini, langsung para undangan, keluarga, dan seniman batak serta pejabat dari Kedutaan Besar Belanda melakukan Makan Malam Bersama tentunya dengan sang budayawan kita Bapak Sitor Situmorang.

Acara puncak malam ini adalah dengan acara diskusi panel tahap dua yang isinya sangat mendetail dan komprehensiv, dan tak lupa pula acara malam itu dibuka langsung oleh Duta Besar Kerajaan Belanda Mr. Nikolaos van Dam. Untuk acara diskusi panel kali ini, Mr. John McGlyn menjadi moderatornya.

Sebelum acara diskusi dimulai, Sitor Situmorang meluncurkan salah satu bukunya yang berjudul "Menimbang Sitor Situmorang" dengan kata sambutan oleh Guruh Soekarno Putra yang merupakan seorang seniman dan salah satu putra dari sang proklamator kita Ir. Soekarno yang sering disapa Bung Karno.

Akhirnya diskusi panel yang ditunggu-tunggu oleh banyak pihak dimulai dengan panelis pertama oleh seorang sastrawan Afrizal Manna.

Sedikit tentang Afrizal Manna. Beliau lahir di Jakarta pada 7 Juni 1957 dengan latar belakang pendidikan sebagai seorang filsafat. Dia menulis beberapa buku sastra dari tahun 1984 hingga 2009 yang salah satunya karyanya adalah "Kalung Dari Teman" yang merupakan kumpulan puisi Bung Afrizal Manna. Di tahun 2001 beliau menerjemahkan sebuah buku berbahasa asing dengan judul "Do Lado Dos Ollos Arredor da poesia, entrevistas con 79 Poetas do Mundo" (Emiilio Arauxo, Edicions do cumio).

Bung Afrizal kali ini akan membawakan sebuah diskusi yang bertema Sitor, pengaruh dan kedudukannya dalam Sastra Indonesia. Gereja Bahasa yang Meninggalkan Surga untuk Mencari Cinta, merupakan judul yang dipakai sebagai pengantar dari tema diskusi tersebut. 605 Puisi Sitor Situmorang yang dikumpulkan JJ Rizal dan terbit pada tahun 2006 dalam 2 buka, bahwa dugaan saya merupakan kumpulan terbesar yang pernah dihasilkan penyair Indonesia setelah Subagio Sastrowardoyo. JJ Rizal setelah mengumpulkan 605 puisi tersebut lalu membuat periodesasi atas puisi-puisi karya Sitor berdasarkan perubahan kehidupan sitor sendiri. periode itu terbagi dalam 7 kategori :
1. Periode 1948-1950 : awal Sitor menulis puisi dan bergaul dengan berbagai seniman di Jakarta diantaranya oleh HB Yasin dan A. Teeuw dilabelkan sebagai "Angkatan 45"
2. Periode 1951-1955 : Sitor mulai melakukan perjalanan ke Eropa
3. Periode 1956-1967 : Mendekatnya Sitor memasuki garis politik sosialisme Soekarno, Tiongkok, Rusia dan Eropa Timur banyak digunakan sebagai medan penciptaan puisi-puisinya. Dan impian sitor akan kemerdekaan Asia-Afrika dan Imperialisme Barat.
4. Periode 1967-1975 : sebagai periode yang hilang karena Sitor masuk ke dalam penjara pemerintahan Suharto.
5. Periode 1975-1969 : Sitor banyak melakukan perjalanan ke berbagai kota dan pulau di Indonesia
6. Periode 1980-1999 : Sitor kembali meninggalkan Indonesia
7. Periode 2000-2005 : Sitor memasuki masa tua (81 tahun) dan hidup dalam perjalanan bolak balik antara Belanda-Indonesia.

Panelis Kedua oleh JJ Rizal seorang peneliti sejarah di Komuntas Bambu. Lulusan dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI tahun 1998 dengan skripsi "Sitor Situmorang : Biografi Politik 1956-1967". Rizal adalah seorang penulis di beberapa surat kabar nasional seperti Jakarta Post, Tempo, Media Indonesia, Warta Kota dan Majalah Tempo, Djakarta, d'Maestro, Mata Baca, Jurnal Perempuan serta Jurnal Wacana.
Tema diskusi yang diangkat oleh Bung Rizal dalam diskusi panel kali ini adalah Sitor, Sukarno dan Sisingamangaraja.

Sitor, Sukarno dan Sisingamangaraja sebuah identitas kebatinan Sitor Pasca Pemenjaraan.

Panelis ketiga oleh Bung Radhar Panca Dahana
Beliau mencurahkan apresiasinya atas karya-karya dari Sitor Situmorang. Beliau berujar bahwa satu kelebihan Sitor Situmorang yang sulit diraih oleh penyair manapun adalah ruang dan waktunya. Bukan hanya karena usia panjangnya yang kita peringati kali ini, tapi lebih pada usia kepenyairannya yang dalam pemahaman apa pun mencapai kematangan paripurna : 60 tahun. Plus lima tahun masa kreatifnya yang dimulai sejak ia menjadi wartawan Suara Nasional di Tarutung tahun 1943. Dalam diskusi panel kedua kali ini Bung Radhar mengangkat sebuah tema yaitu Sitor dan Politik Kebudayaan Indonesia. Dalam penelusuran hidup yang panjang itu jujur harus diakui, usaha memahami seorang Sitor adalah satu hal yang problematis, kongruen dengan apa yang terjadi saat kita - baik dari pihak internal maupun eksternal - memahami diri bangsa ini. Sebuah kekuatan yang paralel juga, ketika negeri ini senantiasa gagal mengkonstitusi dirinya sendiri, Sitor pun selalu dalam posisi yang gamang memosisikan dirinya sendiri, walau pada tingkat atau maqam yang terus meninggi.
Sebagai makhluk budaya, Sitor adalah kebudayaan itu sendiri, penuh warna. Barangkali kebudayaan itu adalah seorang pemikir, karena ia diproduksi oleh kerja keras bagian terpenting dari dunia modern: yaitu akal. Namun kebudayaan adalah juga seorang yang sentimental, dalam arti ia juga memproduksi hal-hal yang bersifat etis, moral, dan spiritual. Sitor tentu adalah seorang pemikir, namun sesungguhnya ia bergerak lebih dengan intuisi dan dunia batinnya yang kuat. Inilah faktor yang membuatnya sulit diduga begitupun saat hidupnya menikung dengan tajam. Ia dipenjara tanpa alasan oleh rezim Suharto selama delapan tahun, tanpa fasilitas baca dan tulis sama sekali, Sitor melenggang semua itu dengan rileks, sebagaimana ia melalui Quartier Latin untuk menyusuri sungai Seine dan berpuisi di depan Katedral Notre Dame.

Profil Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta 26 Maret 1965 dia menyelesaikan pendidikannya di FISIP UI jurusan Ilmu Sosiologi dan DEA University Paris Perancis. Dia adalah seorang editor dan kontributor Harian Umum Kompas dan peraih "Paramadina Awards, The Best Short Stories dari Kompas national competition serta Kuntowijoyo's Saintific and Cultural Award"

what we could have been, 5:31:00 PM.
Sunday, October 18, 2009


Agenda Acara OKTOBER 2009

Bentara Pentas Musik
"BACK TO THE ROOTS OF ALL MUSIC"
Kamis, 8 Oktober 2009 Pkl. 19:30 WIB

Sesuai dengan tema yang diambil, kali ini Bentara akan menampilkan musik beraliran Blues yang dikenal sebagai akar semua jenis musik, dengan para musisi yang tergabung dalam INA BLUES All Star featuring Kiboud Maulana, Rama Clapord, Ulife, Ade Warman, Tammy Daud, Ardian Oetomo dan Frans Sunito

Pameran Treinal Seni Grafis Indonesia III Tahun 2009
"Karya Pemenang dan Finalis"
15 - 25 Oktober 2009

Peresmian : Kamis, 15 Oktober 2009 Pkl. 19:30 WIB
Umum : 16 - 25 Oktober 2009 Pkl. 10:00 - 18:00 WIB

Menyuguhkan seri pemandangan terbaru di dalam perkembangan dunia seni grafis hari ini, yang merupakan hasil dari Trienal Grafis 2009, sebuah kompetisi tiga tahunan yang dijaga secara ketat oleh tim juri. Sebanyak 50 karya finalis termasuk diantaranya tiga pemenang utama akan tampil di dalam pameran perdana di venue kami di Jakarta. Berbeda dengan dua kali kompetisi terdahulu, Trienal kali ini melonggarkan tema sambil mengharap munculnya karya-karya grafis yang hebat secara teknis sekaligus kuat di dalam pesan. Kombinasi kehebatan tersebut bisa ditemui di dalam sejumlah karya finalis. Berbagai corak gambar muncul di dalam puluhan karya teknik cetak. Terbanyak diantaranya adalah cukil kayu, beberapa menggunakan intaglio, lithography, monoprint, serta "mixmedia".
Menurut ketua dewan juri Aminudin Siregar, di tengah berbagai kemudahan aplikasi teknologi/media sekarang. Trienal kali ini mengajak kita untuk merenungkan kembali potensi konvensi, kekuatan teknik, gubahan dan estetikanya. Ia mengharap akan tercipta sebuah gelombang pemahaman bersama mengenai karakteristik seni grafis, mengenai peluang dan visi pengembangannya ke arah yang lebih baik.
Para peserta kompetisi ini berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, namun seperti sudah diduga, sebagian besar karya finalis muncul dari seniman yang bekerja di Yogyakarta dan Bandung. Pameran ini akan dibawa berkeliling ke Bentara Budaya Yogyakarta (13-22 November 2009), Bentara Budaya Bali (1-20 Desember 2009). Pameran di Bandung dan tempat lain sedang dalam penjajagan.

Untuk informasi lebih lanjut klik ke www.bentarabudaya.com

what we could have been, 3:44:00 AM.

Profile

NAME
age school whatever.
Tagboard
place tagboard code here. max width=130.
get one from cbox!
Wishlist
new camera
▪ the 18th birthday
Exits
Eefennie
name name name
Archives
9/20/09 - 9/27/09 10/11/09 - 10/18/09 10/18/09 - 10/25/09 10/25/09 - 11/1/09 11/1/09 - 11/8/09
Credits
designed by lil.queens
photos: bexidaisy on DA
host: imageshack & imeem
inspiration & lyrics: TLG
title script source unknown.