<body>


Friday, September 25, 2009


Roadshow Seni & Budaya Indonesia 2 - 17 Agustus 2009

Event akbar di pertengahan tahun 2009.

Acara yang berlangsung selama lima belas hari ini diselenggarakan secara terpisah di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta seperti Grand Indonesia, Pondok Indah Mall 2, Cilandak Town Square, Plaza Semanggi dan di Kampus Universitas Indonesia Depok. Pembukaan pada tanggal 2 Agustus dilaksanakan di Grand Indonesia dengan sambutan oleh Ketua Panitia Pelaksana Bpk. Dwi Woro R. Mastuti, M. Hum dan berakhir pada tanggal 17 Agustus di Kampus UI Depok.

Warna Warni Indonesia 2009 kali ini menampilkan berbagai macam jenis pertunjukan kesenian dan budaya seperti penampilan Paduan Suara Musik Anak Marginal RODA yang menyanyikan beberapa lagu daerah seperti Sirih Kuning, Orang-orang tertindas, Cublak cublek sueng, Kendang Ibu Hujan Gerimis, lalu Gamelan Anak-Anak Asing Sanggar Jawa Jawi Jawa, serta penampilan sebuah band yang menyanyikan lagu "KERONCONG TUGU" yang merupakan salah satu lagu daerah milik kota kita tercinta Jakarta. Tidak hanya penampilan karya seni saja yang terlibat dalam acara ini. Peragaan Busana pun tidak ketinggalan dalam event akbar yang di selenggarakan selama dua minggu.

Keberagaman dalam budaya menjadi tema dalam acara Warna Warni Indonesiaku tahun 2009. Kegiatan ini merupakan penghubung seluruh kebudayaan di Indonesia. Warna Warni Indonesiaku pada dasarnya adalah sebuah acara budaya yang mempergelarkan berbagai kesenian daerah asli Indonesia, meliputi tarian daerah, berbagai macam wayang seperti wayang golek, pagelaran musik tradisional dilengkapi dengan arena bazaar kerajinan keramik, pameran budaya dan fotografi serta demo kain batik.

Acara ini ditujukan untuk masyarakat Indonesia agar selalu menjaga, melindungi dan melestarikan budaya daerahnya agar tidak diklaim oleh negara lain. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang sangat banyak dan beragam. Lakukan dari sekarang sebelum negara lain mengklaim budaya kita.

Acara diselenggarakan oleh Komunitas Wayang Universitas Indonesia atau (KWUI), serta dibantu oleh Wayangkom dan Yayasan Adnyadna Jawa Dwipa. Event akbar tahun ini mendapat dukungan sepenuhnya oleh PT. Bakrie Development Tbk, Bakrie Life Insurance, PT. Minarak Lapindo Jaya, dan PT. Bukit Asam Tbk.

what we could have been, 1:58:00 AM.
Thursday, September 24, 2009


Photograph by Alphons Hustinx. Erasmus Huis Jakarta 24 Juni – 28 Juli 2009.

Pameran Perjalanan yang telah berlalu, Foto-foto perjalanan Alphanos Hustinx periode 1930-1950 (acara ini berlangsung hingga 28 Juli 2009)

Pameran yang telah berlangsung pada bulan Juni dan Juli lalu telah memberikan pencerahan kepada pengunjung mengenai Perjalanan Kehidupan di era tahun 1930an dalam berbagai rangkaian foto.

Foto perjalanan hitam putih yang asli peninggalan fotografer dan sineas Alphons Hustinx (1900-1972) bercerita tentang rangkaian perjalanannya ke Asia Tenggara, Afrika Selatan dan Barat, daerah Karibia dan Timur Tengah pada 1930-an dan 1950-an. Kepada keluarganya Hustinx mewariskan klise, film, surat, agenda dan buku harian dengan penuh tulisan. Berkat sejumlah dokumen pribadi dan gambar ini terkuaklah kehidupan pria bujangan asal Limburg ini. Hustinx memperoleh ketenaran berkat film-film dokumenternya tentang negara-negara non barat. Sebagai fotografer dan sineas, Hustinx adalah seorang yang otodidak., yang merupakan hal yang biasa pada masa itu. Ia mengembangkan dirinya menjadi seorang ahli yang serba bisa. Pada 1930 hingga 1950-an, Hustinx membuat karya foto untuk beberapa peruhsaan besar seperti Stoomvaart Maatschappij Nederland (Perusahaan Pelayaran Belanda), KLM, Shell, dan BPM, tetapi reputasinya hanya dikenal terbatas pada kalangan kecil yang mengenal karyanya. Foto perjalanan Hustinx memperlihatkan bahwa ia mempunyai pengamatan kompositoris yang luar biasa dan minta besar terhadap budaya lain.

Erasmus Huis Jakarta kali ini menampilkan beberapa koleksi foto hitam putih karya Alphons Hustinx seperti foto mobil Ford Cabrio milik Alphons Hustinx dengan latar belakang Piramida Chefren yang diambil pada tahun 1932 di Giza, Mesir. Lalu suasana Pusat Kota Tua di Baghdad Irak dan Sungai Tigris yang diambil pada tahun yang sama. Dari Irak lalu dia melanjutkan ke Iran. Di Iran dia menyempatkan untuk mengambil foto sebuah Masjid di pinggiran kota Rhages, Teheran Iran di tahun 1932. Afghanistan Barat (1932) menjadi peristiwa yang mungkin menjadi cerita menarik di sepanjang hidupnya, Hustinx memfoto Orang Afghanistan bersenjata yang menahan Ford Cabrio miliknya bersama temannya Regrot.

Dari Timur Tengah lalu dia beranjak menuju ke Kawasan Asia Tenggara, dalam pameran ini banyak sekali foto-foto Indonesia di era tahun 1930-an. Gerbang Amsterdam (kini sudah tidak ada) yang diambil tahun 1938 di Batavia Hindia Belanda. Lalu foto Parade Militer yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh tahun 1938 di Batavia. Ada lagi foto Pegunungan Tengger yang sedang terkena Badai Pasir di tahun 1938. Tidak hanya di Indonesia. Pakistan juga mendapatkan giliran kunjungan Hustinx untuk berbagi cerita melalui kameranya. Foto wanita muslim mengenakan burka (red : burka adalah semacam pakaian cadar tapi ini berwarna putih) yang diambil pada tahun 1950 di Karachi Pakistan. Lalu foto pemetik katun di Mirpur Khas, Sind Pakistan.

Pameran foto ini memberikan warna tersendiri untuk pengunjung yang menyukai foto hitam putih, karena nilai ekstetikanya sangat kental dengan keadaan tempo dulu. Begitu Anda masuk ke dalam ruangan pameran, anda akan merasakan seperti berada di zaman kolonial dan pasca kemerdekaan Indonesia, karena semua foto yang terpampang siap menyambut Anda untuk kembali ke masa silam. Pameran ini juga menampilkan sebuah film mengenai perjalanan Hustinx di Kepulauan Indonesia akhir tahun tigapuluhan, dengan subtitel dalam bahasa Indonesia.


what we could have been, 3:56:00 PM.


Cukil Habis adalah tema yang diambil dalam Pameran Tunggal Sri Maryanto Ssn di Japan Foundation Jakarta pada bulan Agustus lalu.

Japan Foundation Jakarta pada 7 - 21 Agustus 2009 lalu telah menyelenggarakan acara pameran tunggal Cukil Habis karya Sri Maryanto Ssn. Acara yang berlangsung selama dua minggu tersebut telah menyedot pengunjung untuk melihat lebih dekat mengenai seni grafis Cukil Habis yang lebih dikenal dengan Teknik Reduksi. Sebenarnya Cukil Habis atau teknik reduksi apaan sih ? Yuk ... kita selami dunia seni grafis tingkat tinggi tersebut ....

Teknik reduksi atau cukil habis adalah seni grafis berupa cukilan kayu yang dibentuk menyerupai lukisan pada seni lukis. Mengapa menggunakan media kayu ? karena hasil cukilan kayu memang sudah kuat sekali mewakili ekspresi walaupun hanya satu warna hitam di atas putih. Tetapi eksplorasi teknik berjalan terus mencari kemungkinan baru yang menyegarkan. Teknik penggunaan banyak warna pada seni grafis cetak tinggi merupakan salah satu dari sekian banyak eksplorasi. Teknik ini memiliki beberapa metode misalnya menggunakan banyak plat/master untuk setiap warna yang diperlukan, seperti yang dikerjakan pada seni grafis Ukiyo-e di Jepang. Cara ini memiliki keuntungan bahwa karya grafis bisa dicetak terus menerus tak terbatas.
Sedangkan cara yang lain adalah menggunakan metode teknik satu plat yaitu dengan cara mencukil plat/master terus menerus sampai selesai setiap warnanya. Teknik ini menjadikan plat/master tersebut rusak sehingga tidak bisa digunakan lagi untuk mencetak setelah karya selesai, atau dengan kata lain permukaannya habis. Teknik ini hanya menghasilkan jumlah edisi yang terbatas sehingga cara ini biasanya disebut metode cukil habis/reduksi. Teknik ini banyak dieksplorasi oleh pegrafis-pegrafis dari Jogja, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai teknki cukil kayu khas Jogja.
Kelemahan dari penggunaan teknik ini adalah jumlah edisi yang terbatas dan tidak dapat diproduksi lagi. Namun efek yang didapat dari metode ini secara visual sangat menarik dan berbeda dengan capaian teknik-teknik cetak tinggi yang lainnya.


Sri Maryanto Ssn
Beliau adalah peserta magang Yayasan Kelola yang saat ini tengah mencari pengalaman di The Japan Foundation, Jakarta. Pria kelahiran Klaten 13 Mei 1976 ini menuntaskan kuliahnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa, jurusan Seni Murni tahun 2006.
Sejak tahun 2003, Anto sapaan akrabnya, mendirikan ORABER-total produk grafis-sebuah rumah produksi seni grafis dalam bentuk benda fungsional yang bertujuan mengaplikasikan karya seni grafis murni dalam berbagai benda sehari-hari seperti : kaos, jam, pin, kartu pos, dll.
Anto dan ORABER-nya telah ikut berpartisipasi dalam Pasar Seni Festival Kesenian Yogyakarta di Benteng Vre De Burg Yogyakarta sejak tahun 2007.
Di bidangnya Anto telah meraih beberapa penghargaan antara lain :
Tahun 2001 : menggambar Terbaik FSR ISI Yogyakarta
Tahun 2003 : Pemenang III Trienal Seni Grafis Indonesia 2003

what we could have been, 3:00:00 PM.


11 August - 19 September 2009

The Mosque of Rome on display at the Italian Institute of Culture
On the occasion of the beginning of the Holy month of Ramadhan, under the Patronage of the Embassy of Italy, the Italian Institute of Culture presents "La Moschea di Roma. Images of the biggest mosque of Europe", a photo exhibition aimed at spreading knowledge about this highly significant building and the reality of Islam in Italy.
The muslim are now the second religious community in Italy for number of worshippers. Currently, the Muslim population in Italy is made up of about 800.000 individuals. The come from different areas of the world, speak different languages and have different backgrounds. The majority is made up of immigrants arrived in the last twenty years. They come from Morocco, Albania, Tunisia, Senegal, Egypt, Algeria. There are three great mosque in Italy : Rome, Milan and Catania.
The mosque of Rome was inaugurated in 1995, but its story begun at least 20 years before, in 1974, when an international competition was won by Paolo Portogeshi. Portoghesi, professor or History of Architecture at the University of Rome, had known and appreciated the Islamic architecture in the early '70, while travelling in Jordan, Sudan, Turkey, Egypt and Tunisia. Encouraged by a profound interest towards Islamic religion and the way the faithful make experience of it, the architec drew inspiration for his project from reading the Koran.
"Today the dialogue with the Muslim culture in Western world is a fundamental element of the culture of Peace. To have realized in Rome, the capital of Christiany, a large mosque, which was strenuosly defended by a great mayor like Giulio Carlo Argan, gave me the joy of devoting 20 years of my life to one of the architecture of the last century that best symbolize the desire of peace and mutual understanding".
It was meditating on the words of the "Sura of the Light" (Quran 24 : 35), which expresses the relationship between God and man in a universal way, that the architect conceived the kind of illumination system used in the Mosque of Rome. He was succesful in bringing into reality the image contained in the verse "Light upon Light!". Two streams of light are confronted one another within the Mosque: a top-down stream through the cracks of the dome, which symbolizes the love of God for men; and a botom-up light stream, which expresses the tension of the prayer of the faithful.
Other tributes to Islam are visible in the structure, from the intertwined archs, to the pillars that recall the palm forest of the Maghreb and the concentric circles based on the cosmology of the seven heavens.
The materials used remins us of the relationship of the monument to the city of Rome where it is located : travertine, yellowbrick, the peperino and tuff.
The complex of the Mosque is also the venue of the Islamic Cultural Center, an association recognized by the Italian Government in which many countries are represented and Indonesia amongst them. The Islamic Center, that was founded in 1966 with the purpose to assist Muslim in Italy, seeks to spread the teachings of Islam and the call for peaceful coexistence through dialogue.
This important initiative at the Italian Institute would not have been possible without the kind cooperation of Ambassador Mario Scialoja and Gabriele Tecchiato of the above mentioned Center.
The exhibition will be opened by H.E. the Ambassador of Italy Roberto Palmieri on 11th August at Istituto Italiano di Cultura, Menteng, with a visual presentation on the architecture of Mosque by Avio Mattiozzi.

Acara tersebut berakhir pada 19 September 2009 atau satu hari sebelum perayaan Idul Fitri 1430 H.

Labels:


what we could have been, 4:52:00 AM.
Wednesday, September 23, 2009

Jakarta Jalan Jalan adalah sebuah blog mengenai informasi tentang jakarta seperti wisata kuliner, wisata religi, wisata seni dan budaya, wisata belanja, sejarah jakarta serta asal usul nama kampung di jakarta dan informasi pendukung jakarta seperti pusat bisnis, perdagangan, ekonomi, pendidikan dan lain-lain.
Tidak hanya itu, kami juga akan menampilkan profil-profil dari museum, komunitas, kuliner, belanja dan tokoh masyarakat yang berpengaruh bagi perkembangan Jakarta, panduan transportasi lengkap di Jakarta serta liputan event atau kegiatan yang berlangsung di Jakarta dan sekitarnya seperti event seni dan budaya yang bersifat lokal tradisional hingga yang sifatnya international. Ini semua saya berikan untuk anda yang sangat membutuhkan informasi tentang Jakarta.
Kita kembali lagi ke blog Jakarta Jalan Jalan. Jakarta Jalan Jalan merupakan blog yang nantinya akan dikembangkan menjadi website yang berisi database informasi tentang Jakarta dan sekitarnya.
Kami juga membuka forum komunikasi antar sesama pembaca blog untuk selalu mengkoreksi, memberi kritik dan saran tentang blog ini. Agar di kemudian hari, kritikan itu dapat menjadikan blog ini sebagai salah satu media informasi terbaik.
Akhir kata kami mengharapkan Anda untuk berkunjung dan berbagi informasi di JakartaJalanJalan.

SALAM JAKARTA ...... !!!

Labels:


what we could have been, 4:27:00 AM.

Profile

NAME
age school whatever.
Tagboard
place tagboard code here. max width=130.
get one from cbox!
Wishlist
new camera
▪ the 18th birthday
Exits
Eefennie
name name name
Archives
9/20/09 - 9/27/09 10/11/09 - 10/18/09 10/18/09 - 10/25/09 10/25/09 - 11/1/09 11/1/09 - 11/8/09
Credits
designed by lil.queens
photos: bexidaisy on DA
host: imageshack & imeem
inspiration & lyrics: TLG
title script source unknown.